Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming menegaskan dalam pidatonya di KTT G20 Johannesburg bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai revolusi industri baru harus membawa manfaat yang adil bagi negara-negara pemasok mineral kritis. Ia mengingatkan bahwa nilai tambah teknologi tidak boleh hanya dinikmati perusahaan besar di negara maju, sementara negara berkembang hanya menjadi penyedia bahan mentah.
Dalam forum global tersebut, Gibran mengajak negara-negara anggota G20 untuk memastikan revolusi AI berjalan inklusif dan tidak memperlebar jurang digital. Ia menyoroti bahwa selama bertahun-tahun negara berkembang terjebak dalam ekspor bahan mentah, sementara nilai tambah industri dinikmati di luar negeri. Untuk itu, Indonesia memilih memperkuat hilirisasi dan membangun industri dalam negeri agar manfaat kekayaan alam bisa dirasakan rakyat.
Gibran juga menekankan pentingnya tata kelola AI yang beretika, akses setara terhadap data, serta kemitraan global yang adil dalam pemanfaatan mineral kritis. Menutup pidatonya, ia menegaskan komitmen Indonesia bahwa masa depan harus dibangun di atas prinsip keadilan dalam teknologi, sumber daya alam, dan kesejahteraan pekerja.
Dikutip dari antaranews.com