Harga minyak dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis, seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan global. Brent naik 14 sen ke USD 59,82/barel, sementara WTI menguat 21 sen ke USD 56,15/barel, didorong potensi sanksi AS terhadap Rusia dan pemblokiran ekspor minyak Venezuela.
Dennis Kissler dari BOK Financial menilai pasar mulai mencari pijakan dari pemblokiran ekspor Venezuela, yang dapat menghentikan produksi minyak di wilayah tersebut jika berlanjut. AS juga tengah menyiapkan sanksi tambahan terhadap sektor energi Rusia, meski Presiden Trump belum mengambil keputusan.
Pemblokiran ekspor Venezuela diperkirakan memengaruhi sekitar 600.000 barel per hari, sebagian besar ke China, sementara ekspor ke AS tetap berlanjut. Sanksi terhadap Rusia berpotensi menambah tekanan terhadap pasokan minyak global.
Menurut analis Bank of America, harga minyak yang rendah dapat menekan produksi minyak serpih AS di masa depan. Jika WTI rata-rata USD 57/barel pada 2026, produksi diperkirakan menyusut 70.000 bph.
Kondisi ini menunjukkan ketidakpastian pasar minyak dunia tetap tinggi, dengan kombinasi risiko geopolitik dan kebijakan sanksi yang memengaruhi harga dan pasokan secara global. Investor dan pelaku pasar perlu mencermati perkembangan situasi Venezuela dan Rusia untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak dunia.
Dikutip dari liputan6.com