Jakarta – Harga minyak mentah diperkirakan akan melonjak seiring memburuknya konflik antara AS dan Iran. Gelombang serangan udara AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat tinggi lainnya, memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan minyak global.
Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah AS (WTI) diprediksi berpotensi menembus USD 73 per barel, sementara harga Brent berjangka bisa mengalami kenaikan lebih tinggi, setelah sebelumnya masing-masing ditutup pada USD 67,02 dan USD 73,21 per barel. Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak dunia, praktis terhenti karena perusahaan pelayaran mengambil tindakan pencegahan. Sekitar sepertiga ekspor minyak global melewati selat ini, termasuk pengiriman ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Para analis UBS memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan bisa mendorong harga Brent spot melampaui USD 120 per barel. Namun, Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan dialog dengan Iran, yang dapat meredam eskalasi dan menstabilkan pasar. Pasar minyak kini sangat memantau pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz serta respons Iran dalam beberapa hari ke depan.
Dikutip dari liputan6.com