Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat terbatas terhadap dolar AS pada Selasa, berkisar antara Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan rupiah dipicu oleh data manufaktur Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan, di mana Indeks Manufaktur Empire State AS tercatat minus 3,9, jauh di bawah ekspektasi sebesar 10.
Investor saat ini menunggu data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang dirilis pada malam hari. NFP diperkirakan menambah hanya 25–25 ribu pekerjaan, jauh di bawah angka normal di atas 100 ribu, sehingga menekan dolar AS dan memberi ruang bagi rupiah untuk sedikit menguat.
Namun, sentimen domestik tetap memberikan tekanan. Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, investor berhati-hati terhadap potensi keputusan suku bunga. Jika BI menurunkan suku bunga, imbal hasil obligasi menjadi lebih rendah sehingga menekan daya tarik rupiah bagi investor asing.
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, rupiah melemah 6 poin atau 0,04% menjadi Rp16.673 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.667 per dolar AS, mencerminkan konsolidasi mata uang domestik di tengah ketidakpastian data global dan domestik.
Dikutip dari antaranews.com