Trend Sahur Tinggi Protein Tanpa Karbo, Aman atau Berisiko? Ini Penjelasan Dokter

Trend Sahur Tinggi Protein Tanpa Karbo, Aman atau Berisiko? Ini Penjelasan Dokter

Tren sahur “full protein” kembali ramai diperbincangkan selama Ramadan. Setelah sebelumnya muncul tren sahur “full karbo”, kini sebagian masyarakat memilih mengonsumsi makanan dominan protein seperti ayam, telur rebus, dan daging saat sahur dengan alasan menjaga gula darah tetap stabil dan mendorong tubuh membakar lemak sebagai sumber energi.

Namun, dokter spesialis gizi klinis dr. Raissa E. Djuanda, SpGK AIFO-K FINEM mengingatkan bahwa pola makan tersebut tidak sepenuhnya aman jika dilakukan tanpa perhitungan yang tepat. Menurutnya, meski tubuh bisa menggunakan lemak sebagai sumber energi ketika asupan karbohidrat rendah, glukosa tetap dibutuhkan terutama untuk fungsi otak dan sel darah merah.

Jika karbohidrat dikurangi secara ekstrem, tubuh justru dapat memecah protein dari otot untuk dijadikan energi. Kondisi ini berisiko menimbulkan efek samping seperti cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dehidrasi, hingga gangguan pencernaan seperti sembelit selama berpuasa.

Ia menegaskan bahwa menu sahur ideal tetap harus mengandung gizi seimbang. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau sumber biji-bijian utuh sebaiknya dipadukan dengan protein, lemak sehat, serta serat dari sayur dan buah agar energi bertahan lebih lama dan tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

Tren diet boleh saja diikuti, namun keseimbangan nutrisi tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan selama Ramadan. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dianjurkan agar pola makan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Dikutip dari RRI.co.id